Breaking

Media Floresa Jelaskan Alasan Turunkan Artikel Dugaan Korupsi DP2KBP3A Manggarai Timur

RE
Sabtu, 10 Oktober 2026
Media Floresa Jelaskan Alasan Turunkan Artikel Dugaan Korupsi DP2KBP3A Manggarai Timur

MANGGARAI TIMUR — Pemimpin Redaksi Floresa, Ryan Dagur, menyatakan artikel berjudul "Siapa yang Bongkar Dugaan Korupsi Berjemaah DP2KBP3A di Manggarai Timur?" yang terbit 15 Agustus 2026 diturunkan setelah redaksi memverifikasi bahwa bahan yang dikutip berasal dari pertemuan yang sejak awal disepakati sebagai off the record.

Penjelasan itu disampaikan menyusul tudingan yang berkembang di Facebook dan Instagram soal adanya kesepakatan tersembunyi di balik keputusan penurunan artikel. Floresa sebelumnya telah menyampaikan klarifikasi dan permintaan maaf terbuka pada 8 Oktober 2026 melalui media sosial.

Menurut Ryan, kekeliruan bermula ketika status pertemuan dengan narasumber tidak tersampaikan secara utuh dari jurnalis kepada redaksi. Pertemuan itu dimaksudkan untuk memberikan informasi latar belakang, bukan untuk dikutip dalam pemberitaan.

Redaksi Baru Tahu Setelah Artikel Terbit

Redaksi mengetahui adanya kesepakatan off the record setelah artikel terbit dan narasumber mengajukan keberatan. Setelah memeriksa kembali proses peliputan dan mengonfirmasi keterangan para pihak, Floresa menyimpulkan kesepakatan tersebut memang ada.

"Pada titik itu, mempertahankan artikel hanya demi menghindari kesan mundur justru akan memperpanjang pelanggaran," tulis Ryan dalam artikel penjelasannya.

Ryan menegaskan keberanian jurnalistik tidak diukur dari kemampuan mempertahankan setiap publikasi tanpa memeriksa cara informasi diperoleh. Menurutnya, media juga perlu berani mengakui proses yang keliru dan menanggung konsekuensi dari koreksi tersebut.

Dasar Etik: Pasal 7 Kode Etik Jurnalistik

Floresa merujuk Kode Etik Jurnalistik yang disahkan melalui Peraturan Dewan Pers Nomor 6/Peraturan-DP/V/2008. Pada Pasal 7, wartawan Indonesia diminta menghargai ketentuan embargo, informasi latar belakang, dan off the record sesuai kesepakatan.

Dalam penafsirannya, off the record adalah segala informasi atau data dari narasumber yang tidak boleh diberitakan. Ketentuan itu menempatkan kesepakatan off the record sebagai kewajiban etik, bukan pilihan yang bisa diabaikan ketika informasi dinilai menarik atau penting.

Ryan menyebut prinsip off the record bukan hadiah kepada pejabat, bukan pula alat melindungi kekuasaan dari pengawasan. Ia adalah kesepakatan profesional yang mengikat jurnalis dan narasumber.

"Jika kesepakatan itu boleh diabaikan hanya karena informasinya menarik atau sensitif, pers kehilangan dasar moral untuk menuntut keterbukaan dan kejujuran dari pihak lain," tulisnya.

Isu Korupsi Tetap Bisa Ditelusuri Lewat Jalur Sah

Floresa menegaskan keputusan penurunan artikel tidak menutup kepentingan publik atas dugaan korupsi yang diberitakan. Isu itu tetap dapat ditelusuri melalui dokumen, sumber yang bersedia dikutip, konfirmasi yang layak, serta verifikasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Yang dihentikan, kata Ryan, adalah publikasi yang bertumpu pada bahan yang penggunaannya melanggar kesepakatan. Kepentingan publik tetap harus dikejar, tetapi melalui peliputan dan verifikasi yang sah.

Floresa juga menyoroti sejumlah jurnalis yang ikut meramaikan tudingan di media sosial. Menurut redaksi, rekan seprofesi semestinya memahami pentingnya verifikasi, pembuktian, dan ruang konfirmasi sebelum sebuah dugaan diarahkan menjadi kesimpulan.

Ryan menegaskan tulisan penjelasan itu bukan pembelaan diri atau upaya menutup kritik. Ia menyatakan Floresa terbuka diuji dan dikritik, termasuk oleh sesama jurnalis, sepanjang kritik bertumpu pada fakta yang dapat diperiksa.

Sumber: floresa.co

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua