Serangan Siber Hantam Pemilu Rusia, Warga Kupang Bisa Ambil Pelajaran
NAVIGASI.CO.ID — Sistem pemilihan elektronik Rusia diterjang serangan siber besar-besaran selama dua hari pemungutan suara Pemilu Duma, menurut laporan kantor berita Interfax. Ketua Komisi Pemilihan Umum Pusat Rusia Ella Pamfilova menyebut serangan berlangsung nyaris tanpa henti sepanjang malam. Pemungutan suara tiga hari yang menentukan 450 kursi Duma ini menjadi pemilu pertama sejak invasi besar-besaran ke Ukraina pada Februari 2022.
Otoritas Rusia melaporkan gangguan pada sistem pemungutan suara dan jalur komunikasi di hari kedua pemilu parlemen. Serangan terhadap sistem e-voting Moskow terjadi pada Jumat malam hingga Sabtu pagi dan masih berlanjut saat pemungutan suara digelar.
"Sistem Moskow berada di bawah serangan yang sangat kuat, benar-benar tanpa henti, sepanjang malam," kata Ella Pamfilova, Ketua Komisi Pemilihan Umum Pusat Rusia, kepada wartawan Sabtu pagi.
Pamfilova menyatakan sistem e-voting masih beroperasi normal. Ia tidak merinci sifat serangan maupun pihak yang bertanggung jawab.
Serangan Nyaris Konstan dan Berskala Besar
Menurut Pamfilova, serangan berlangsung hampir terus-menerus dengan intensitas tinggi dan menyasar infrastruktur pemungutan suara di Moskow. Interfax melaporkan serangan siber terhadap sistem e-voting Moskow terjadi pada jeda Jumat malam ke Sabtu pagi.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada klaim tanggung jawab dari pihak mana pun. Otoritas Rusia juga belum mempublikasikan data teknis soal metode serangan yang digunakan.
Pemilu Pertama Sejak Invasi Ukraina
Pemungutan suara berlangsung hingga pukul 18.00 GMT Minggu. Warga Rusia di 11 zona waktu menyalurkan suara untuk menentukan seluruh 450 kursi di Duma Negara, majelis rendah parlemen.
Pemilu Duma kali ini menjadi yang pertama sejak Rusia melancarkan perang skala penuh ke Ukraina pada Februari 2022. Partai berkuasa Rusia Bersatu yang mendukung Putin diperkirakan tetap mendominasi peta politik Rusia.
Sejumlah besar kandidat antoperang tersingkir dari surat suara sebelum pemungutan dimulai. Mahkamah Agung Rusia bulan lalu memutuskan partai liberal Yabloko yang menuntut gencatan senjata di Ukraina melanggar aturan pemilu. Yabloko membantah pelanggaran tersebut.
Putin Tuding Ukraina, Kyiv Sebut Pemilu Farce
Presiden Rusia Vladimir Putin menuduh Ukraina berupaya menghalangi jalannya pemungutan suara. Kyiv belum menanggapi tuduhan itu secara langsung.
Ukraina menyebut pemilu Rusia sebagai farce atau sandiwara politik. Lebih dari 350 drone Ukraina menyasar ibu kota Rusia pada Jumat pagi, menurut laporan Wali Kota Moskow.
Dengan hasil pemilu yang berpotensi memberi Kremlin gambaran sentimen publik atas invasi, Kyiv terus menggelar serangan udara agar warga Rusia merasakan dampak konflik secara politik, sosial, dan ekonomi.
Partisipasi Pemilih Tetap Tinggi
Data Komisi Pemilihan Umum Pusat Rusia yang dikutip media negara mencatat tingkat partisipasi nasional hingga pukul 14.00 waktu setempat Sabtu mencapai 32,58 persen. Angka itu dihitung saat pemungutan suara masih berlangsung.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova mengatakan warga Rusia menunjukkan partisipasi aktif dalam pemilu Duma di tengah ancaman fisik dan tantangan siber. Menurut Zakharova, tingginya partisipasi mencerminkan respons kolektif rakyat terhadap apa yang ia sebut perang yang dideklarasikan terhadap Rusia dan rakyatnya.
Hasil resmi pemilu Duma diperkirakan menjadi penanda sejauh mana dukungan publik Rusia terhadap perang yang telah berjalan lebih dari tiga tahun. Sejumlah pengamat internasional meragukan independensi proses pemungutan suara di tengah pembatasan terhadap kandidat oposisi.