380 Fasilitas Pendidikan Rusak Akibat Gempa Manggarai, Ombudsman Soroti Kekurangan Tenda Darurat di Sekolah
RUTENG — Anggota Ombudsman RI Robert Na Endi Jaweng menyoroti kondisi pembelajaran pascagempa di Manggarai saat meninjau lokasi bencana. Ia menilai siswa tidak boleh kehilangan kesempatan belajar meski fasilitas sekolah belum pulih.
Di SDK Sante, Desa Paralando, Kecamatan Reok Barat, kegiatan belajar mengajar sudah berlangsung sejak gempa utama Agustus lalu. Sekolah ini memiliki 80 siswa yang terbagi dalam dua rombongan belajar, namun hanya tersedia dua tenda darurat bantuan Palang Merah Indonesia (PMI).
Dua Tenda untuk 80 Siswa, Kelas Dibagi Dua Ruang
Setiap tenda dibagi menjadi dua ruang kelas. Akibatnya, sekolah menerapkan sistem bergantian berdasarkan kelas dan hari, dengan setiap kelas hanya mendapat kesempatan belajar di tenda dua kali dalam sepekan.
"Kami sudah satu bulan satu minggu belajar di tenda darurat," kata Simon Obianus O. Mado, seorang guru SDK Sante, Sabtu (3/10/2026).
Simon menyebut pihak sekolah membutuhkan tambahan empat ruang belajar lagi. Ia berharap pemerintah menambah enam tenda, termasuk satu unit untuk posko.
Keterbatasan jumlah tenda membuat jam belajar siswa berkurang. Sekolah juga belum mengajukan permohonan penambahan tenda kepada pemerintah.
Ombudsman Khawatir Tenda Roboh Saat Hujan dan Angin Kencang
Robert Na Endi Jaweng mengungkapkan kekhawatirannya terhadap kondisi tenda yang digunakan. Menurutnya, ukuran tenda tidak terlalu panjang sehingga rentan roboh bila diterpa hujan dan angin kencang.
"Tenda itu ukurannya tidak terlalu panjang," ungkapnya.
Ia menekankan perhatian pada sektor pendidikan sangat penting dan tidak boleh mengorbankan masa depan anak-anak.
"Perhatian itu tetap harus diberikan agar mereka tidak terjadi learning loss itu, kehilangan fase pembelajaran yang membuat kemudian mereka ke depan tidak pasti dalam soal mutu dan sebagainya."
Dari pengamatannya, tenaga pendidik dan guru masih bersemangat menjalani proses belajar mengajar. Namun fasilitas pendukung harus segera ditambah.
Endi juga menemukan ketersediaan tenda tidak sebanding dengan jumlah siswa. Dalam satu jam yang sama, sekitar tiga kelas menjalani pembelajaran berdekatan tanpa sekat sehingga suara saling terdengar.
"Jadi, dalam satu jam yang sama itu secara umum ada tiga kelas yang kemudian mendapatkan proses belajar dan mengajar. Satu sama lain pasti saling kedengaran karena dekat, dan tendanya kan tidak ada sekat," kata Endi.
Pemerintah Masih Verifikasi Data Kerusakan
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Manggarai mencatat 380 fasilitas pendidikan rusak akibat gempa, mencakup kategori rusak ringan, sedang, hingga berat. Data tersebut dihimpun per Sabtu (26/9/2026) dan masih bersifat sementara karena gempa susulan terus terjadi.
Pemerintah daerah bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) kini fokus pada verifikasi faktual terhadap fasilitas umum, kesehatan, rumah, dan fasilitas pendidikan.
Deputi Bidang Logistik dan Peralatan BNPB Andi Eviana menyatakan negara harus hadir betul-betul untuk masyarakat terdampak.
"Jadi hasil monitoring dan evaluasi Ombudsman dengan tim ini, memberikan gambaran kepada kita, bahwa memang penanganan darurat bencana tidak boleh dilaksanakan hanya untuk satu orang saja, tetapi terlibat dengan seluruh," tuturnya.
Ombudsman mendesak pemerintah segera menambah tenda darurat di sekolah-sekolah terdampak agar proses belajar siswa tidak terus terganggu selama masa pemulihan pascagempa.