BPS NTT Catat Inflasi Tahunan September 2026 Capai 2,67 Persen, Harga Emas Perhiasan Jadi Pendorong Utama
KUPANG — Kepala BPS Provinsi NTT Matamira B Kale menyatakan inflasi tahunan September 2026 terjadi karena kenaikan harga pada 10 dari 11 kelompok pengeluaran dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 110,35. Angka inflasi tahunan ini meningkat dibandingkan Agustus 2026 yang tercatat 2,59 persen.
"Komoditas emas perhiasan memberikan andil tertinggi sebesar 0,64 persen. Sedangkan komoditas pelumas atau oli mesin memberikan andil inflasi terbesar kedua yaitu 0,2 persen. Komoditas lainnya yang mendorong inflasi tahunan adalah angkutan udara, bahan bakar rumah tangga, dan beberapa komoditas ikan," kata Matamira di Kupang, Kamis.
Sepuluh Kelompok Pengeluaran Alami Kenaikan Harga
Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi tertinggi, yakni 12,03 persen. Kelompok transportasi menyusul dengan 4,03 persen, diikuti pakaian dan alas kaki 2,80 persen.
Kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan naik 2,50 persen. Penyediaan makanan dan minuman/restoran 2,45 persen, kesehatan 2,01 persen, serta perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga 1,84 persen.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatat inflasi 1,82 persen. Sementara perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga 1,34 persen, dan rekreasi, olahraga, serta budaya 0,65 persen.
Hanya kelompok pendidikan yang mengalami penurunan indeks harga sebesar 3,25 persen pada September 2026.
Deflasi Bulanan 0,35 Persen, Tomat dan Cabai Rawit Jadi Penyebab
Provinsi NTT mengalami deflasi bulanan sebesar 0,35 persen pada September 2026. Deflasi ini berlanjut setelah Agustus 2026 yang juga mencatat deflasi 0,40 persen.
"Deflasi bulanan September 2026 disebabkan oleh penurunan empat dari 11 kelompok pengeluaran. Penyebab dominan deflasi adalah turunnya indeks harga kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 1,04 persen dengan andil minus 0,38 persen," ujar Matamira.
Komoditas tomat memberi andil deflasi terbesar minus 0,15 persen, disusul cabai rawit minus 0,13 persen, ikan tongkol minus 0,09 persen, sawi putih minus 0,06 persen, dan bawang merah minus 0,04 persen.
"Penurunan harga bawang merah, tomat, dan cabai rawit disebabkan oleh pasokan di pasar yang cukup banyak sejak bulan Agustus karena masih dalam periode panen. Demikian juga untuk komoditas ikan tongkol dan sawi putih," katanya.
Sejumlah komoditas menahan laju deflasi lebih dalam. Ikan kembung memberi andil 0,05 persen, daging ayam ras 0,03 persen, bunga pepaya 0,02 persen, semen 0,02 persen, dan pelumas atau oli mesin 0,02 persen.
Deflasi di Tiga Wilayah, Inflasi Bulanan Tertinggi di Kota Kupang
Deflasi bulanan terjadi di tiga wilayah cakupan IHK, sementara dua wilayah lainnya mengalami inflasi. Deflasi terdalam tercatat di Waingapu sebesar 1,75 persen.
Kota Kupang mencatat inflasi bulanan tertinggi sebesar 0,13 persen. Kenaikan harga sejumlah komoditas ikan, daging ayam ras, bunga pepaya, semen, dan keramik menjadi pendorong inflasi bulanan di sejumlah wilayah.
Sementara itu, penurunan harga cabai, bawang merah, tomat, beberapa komoditas sayuran, dan angkutan udara menghambat inflasi.
Secara tahun kalender (year-to-date), inflasi Provinsi NTT tercatat sebesar 1,29 persen.