NAGEKEO — Keputusan mendedikasikan ARMA 2026 kepada warga Tonggurambang diambil Floresa tak lama setelah kabar kemenangan itu diterima. Bagi redaksi, penghargaan ini bukan sekadar pengakuan atas kerja jurnalistik, melainkan pengembalian cerita kepada orang-orang yang telah mempercayakan pengalaman mereka.
Warga Tonggurambang dipilih karena dari ruang hidup merekalah liputan "Militerisasi Flores" berangkat. Di sana, sengketa tanah hadir bukan sebagai perkara abstrak, melainkan masuk ke dapur keluarga, sawah, tambak garam, jalan tani, rumah, makam leluhur, dan kampung yang selama puluhan tahun menjadi tempat warga bekerja dan membesarkan anak-anak mereka.
Herry Kabut Terima Penghargaan di Jakarta, Tim Lain Masih di Lapangan
Pada 24 September 2026, Pemimpin Redaksi Floresa Herry Kabut menerima penghargaan itu di Jakarta. Di saat yang sama, sebagian tim redaksi tidak berada di ruang seremoni.
Mereka sedang menempuh perjalanan lain di Flores untuk mengerjakan liputan berikutnya. Beberapa hari sebelumnya, tim baru kembali dari Tonggurambang dan tiba pada Minggu sore, 20 September 2026.
Di pintu masuk Dusun Bandara, plang bertuliskan "Tanah ini milik TNI AD" menjadi tanda pertama tentang konflik yang sedang didatangi tim liputan.
Dari Plang "Tanah Ini Milik TNI AD" hingga Percakapan di Beranda Warga
Percakapan demi percakapan di Tonggurambang memperlihatkan bahwa perkara ini bukan hanya tentang batas tanah. Warga juga mempersoalkan rasa aman, ingatan keluarga, dan hak untuk tetap hidup di ruang yang telah lama mereka jaga.
Di samping rumah Yohanes Mere Wea, yang akrab disapa John, warga berdatangan satu demi satu: kaum muda, perempuan, dan orang tua. Kursi dibawa dari rumah tetangga. Kopi, teh, kue, dan keripik pisang menemani percakapan.
Dari perjumpaan itu, Tonggurambang tidak lagi menjadi nama dalam agenda liputan. Ia menjadi tempat dengan wajah, suara, dan pengalaman yang harus ditulis dengan hati-hati.
Penghargaan yang Datang Sebelum Kerja Liputan Selesai
Kabar penghargaan diterima ketika kerja liputan belum selesai. Di Jakarta, nama Floresa disebut sebagai penerima ARMA. Di Flores, tim masih bergerak dari satu titik ke titik lain, membawa catatan lapangan dan pertanyaan-pertanyaan.
Situasi itu membuat penghargaan terasa bukan sebagai akhir, melainkan sebagai pengingat. Satu liputan boleh mendapat pengakuan, tetapi pekerjaan utama jurnalisme tetap berada di lapangan: mendengar warga, memeriksa klaim, menghubungkan fakta, dan memastikan persoalan yang menyangkut hidup banyak orang tidak menghilang dari ruang publik.
Surat Warga Dibacakan di Panggung Penghargaan
Malam setelah penghargaan diterima, pesan dari Tonggurambang masuk ke gawai tim Floresa. Warga menulis bahwa mereka kaget dan terharu.
Beberapa hari sebelumnya, ketika tim berkata bahwa jika Floresa menang, penghargaan itu akan didedikasikan untuk Tonggurambang, warga mengira itu hanya percakapan biasa. Namun di Jakarta, Herry memilih membacakan surat warga dalam momen penghargaan itu.
Bagi redaksi, pilihan tersebut bukan tambahan seremonial. Itu adalah cara memastikan panggung penghargaan ikut memuat suara orang-orang yang mengalami langsung dampak dari kebijakan yang diputuskan jauh dari kampung mereka.
Yang Bergerak dari Liputan Ini adalah Kepercayaan Warga
Dari pesan dalam surat warga, redaksi mengetahui bahwa yang bergerak dari liputan ini bukan hanya informasi. Yang bergerak adalah kepercayaan: warga percaya pengalaman mereka tidak dipakai sekadar sebagai bahan cerita, melainkan dibawa dengan tanggung jawab ke ruang publik yang lebih luas.
Warga Tonggurambang mempercayakan cerita yang tidak mudah disampaikan: rasa takut, rumah yang dibangun dengan waswas, lahan sawah dan tambak garam yang dipatok, akses yang terasa menyempit, mushola dan masa depan keluarga yang tiba-tiba menjadi tidak pasti.
Di beranda-beranda warga, tim melihat dua hal berjalan bersamaan: penerimaan yang hangat dan keteguhan untuk bertahan. Ada warga yang mengatakan bahwa mereka hanya ingin hidup tenang di tanah sendiri.
Berpihak pada Publik, Tetap Menjaga Jarak Kritis
Pengalaman meliput Tonggurambang menegaskan kembali pilihan jurnalistik Floresa. Berpihak pada kepentingan publik bukan berarti kehilangan jarak kritis.
Justru sebaliknya, keberpihakan itu menuntut disiplin yang lebih kuat: memeriksa fakta, mendengar banyak suara, membaca dokumen, menguji klaim, dan menolak menjadikan warga terdampak sebagai catatan kaki dalam cerita tentang pembangunan, keamanan, atau kepentingan negara.
Dalam isu agraria, bahasa kekuasaan sering terdengar rapi: pembangunan, kemajuan, proyek, investasi, penataan, keamanan, ketertiban. Jurnalisme perlu memeriksa bahasa itu dan mempertemukannya dengan pengalaman warga.
Dedikasi ARMA 2026 kepada warga Tonggurambang menjadi cara Floresa mengembalikan penghargaan itu kepada tempat dari mana liputan bermula. Sekaligus penegasan bahwa suara warga tidak boleh berhenti sebagai kutipan dalam berita, tetapi harus terus hadir dalam percakapan publik.