TANGERANG — Kepastian cadangan BBM itu disampaikan Bahlil dalam acara Electricity Connect 2026 yang digelar di Tangerang, Banten, Selasa. Menurutnya, posisi cadangan di kisaran 18–21 hari sudah memenuhi ambang batas aman yang ditetapkan pemerintah.
"Yang terpenting sekarang adalah pemerintah memastikan cadangan BBM kita itu ada pada standar minimal, 18–21 hari," ujar Bahlil dalam forum tersebut.
Pernyataan itu muncul saat situasi geopolitik di Timur Tengah memanas. Serangan militer Amerika Serikat terhadap sejumlah lokasi di Iran, dan balasan Iran ke fasilitas militer AS di kawasan Arab, membuat pasar energi global bergerak tidak stabil.
Mengapa Cadangan 18–21 Hari Jadi Patokan Pemerintah
Angka 18–21 hari bukan sekadar hitungan teknis. Rentang itu menjadi acuan Kementerian ESDM untuk memastikan pasokan tetap tersedia bila terjadi gangguan rantai pasok global, termasuk konflik di Selat Hormuz yang menjadi jalur utama distribusi energi dunia.
Selat Hormuz menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab dan menjadi rute vital bagi tanker minyak dari negara-negara produsen di kawasan. Ketegangan di jalur itu langsung berdampak pada harga minyak mentah internasional.
AS dan Israel diketahui melancarkan perang terhadap Iran sejak 28 Februari. Menurut pemerintah Iran, konflik tersebut telah menewaskan lebih dari 3.000 orang di negara itu.
Harga BBM Bersubsidi Dikunci, Nonsubsidi Ikut Pasar
Selain cadangan, pemerintah memutuskan harga BBM bersubsidi tidak akan mengalami kenaikan hingga akhir tahun. Keputusan ini disebut Bahlil sebagai arahan langsung dari Presiden Prabowo Subianto.
Kebijakan berbeda berlaku untuk BBM nonsubsidi. Bahlil menjelaskan jenis bahan bakar ini harganya akan menyesuaikan pergerakan pasar global, khususnya mengacu pada harga minyak mentah Indonesia (ICP).
"Harga BBM nonsubsidi itu akan mengikuti harga pasar. Kalau harga pasar globalnya itu ICP-nya naik, otomatis dia akan naik. Tetapi kalau harga ICP-nya turun, pasti juga dia akan melakukan koreksi," kata Bahlil.
Dampak bagi Warga NTT dan Daerah Lain
Kepastian ini relevan bagi daerah yang bergantung pada pasokan BBM dari luar wilayah, termasuk Nusa Tenggara Timur. Sejumlah kabupaten di NTT masih mengandalkan distribusi kapal tanker untuk memenuhi kebutuhan harian, sehingga stabilitas cadangan nasional berpengaruh langsung pada ketersediaan di tingkat pengecer.
Harga BBM nonsubsidi yang mengikuti pasar berarti masyarakat pengguna Pertamax dan sejenisnya perlu bersiap menghadapi fluktuasi. Sementara pengguna BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar mendapat jaminan harga tetap hingga akhir tahun.
Pemerintah belum merinci langkah lanjutan bila ketegangan geopolitik berkepanjangan. Yang jelas, Kementerian ESDM memastikan posisi cadangan saat ini masih dalam batas aman.