Siswa SMK di Kupang Tikam Guru hingga Kritis karena Kerap Disebut Kampungan, Polisi Ungkap Motif di Balik Amarah Pelaku

Siswa SMK di Kupang menusuk gurunya hingga kritis akibat sakit hati kerap disebut kampungan.
Penulis: Tri Kismayanti
Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:26:31 WIB

KUPANG — Peristiwa penikaman yang mengguncang dunia pendidikan di Kota Kupang akhirnya terungkap. Polisi memastikan motif di balik aksi seorang siswa SMK Pelayaran Lasiana yang menikam gurunya hingga kritis adalah akumulasi kekesalan yang dipendam lama.

Kapolsek Kota Lama, AKP Zainal Arifin Abdurahman, menyebut pelaku berinisial A mengaku sakit hati karena kerap disebut kampungan oleh korban, Soleman Malo alias Eman (27). Perkataan itu dinilai pelaku telah menyinggung harga diri, orang tua, dan kampung halamannya di Kabupaten Alor.

Korban Tertidur Saat Diserang, Pelaku Bertindak Sendirian

"Pelaku sering disebut kampungan, singgung orang tua dan kampung halamannya di Alor sehingga hal itu membuatnya sakit hati," ungkap AKP Zainal Arifin Abdurahman, Jumat (14/8/2026).

Peristiwa berdarah itu terjadi di salah satu kamar asrama SMK Pelayaran, Kelurahan Lasiana, Kecamatan Kelapa Lima. Korban yang sedang tertidur nyenyak tak berkutik saat diserang oleh pelaku yang datang membawa senjata tajam.

Bukan Kali Pertama, Pelaku Sebut Rekan Lain Juga Dipendam Sakit Hati

Arifin menuturkan bahwa aksi nekat tersebut bukanlah keputusan spontan. Kepada penyidik, A mengaku bahwa dirinya dan beberapa rekannya telah lama memendam rasa sakit hati akibat sikap korban yang kerap merendahkan mereka.

"Pelaku mengaku kalau ia dan beberapa rekannya sudah lama memendam rasa sakit hati akibat perkataan korban yang sering merendahkan mereka," terang Arifin.

Meski begitu, polisi masih mendalami apakah ada pihak lain yang terlibat dalam perencanaan penyerangan tersebut. Saat ini, pelaku telah diamankan di Mapolsek Kota Lama untuk menjalani proses hukum lebih lanjut.

Pelaku Baru Dua Tahun Merantau ke Kupang

Dari keterangan polisi, A merupakan perantau asal Alor yang baru dua tahun tinggal di Kota Kupang. Setelah menamatkan pendidikan SMP di kampung halamannya, ia memilih melanjutkan sekolah di jurusan Nautika Kapal Niaga SMK Pelayaran Lasiana.

Berbeda dengan sejumlah teman seangkatannya yang tinggal di asrama, A justru memilih tinggal di sebuah kos di Jalan Anggrek, Bimoku, Kelurahan Lasiana. Jarak antara kos dan asrama yang berdekatan memudahkan pelaku untuk melancarkan aksinya pada malam hari.

Peristiwa ini menjadi catatan kelam bagi dunia pendidikan vokasi di NTT. Pihak sekolah dan kepolisian diharapkan dapat memperkuat pengawasan serta pendampingan psikologis bagi para siswa, terutama mereka yang berasal dari luar daerah dan tinggal jauh dari orang tua.

Reporter: Tri Kismayanti