Breaking

Gelombang Panas Eropa Dongkrak Produksi Panel Surya 17 Persen, Rumah Tangga Raup Penghematan Rp 500 Ribu

RE
Selasa, 18 Agustus 2026
Gelombang Panas Eropa Dongkrak Produksi Panel Surya 17 Persen, Rumah Tangga Raup Penghematan Rp 500 Ribu
Gelombang panas Eropa mendongkrak produksi panel surya hingga 17 persen dan menekan tagihan listrik rumah tangga.

NUSA TENGGARA TIMUR — Gelombang panas yang menyengat Eropa ternyata membawa berkah bagi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Alih-alih terganggu, kinerja panel surya justru meningkat signifikan dan menjadi penopang utama jaringan listrik di tengah krisis cuaca ekstrem.

Data Ember menunjukkan, kenaikan produksi tertinggi terjadi di Italia yang melesat 28 persen, disusul Hungaria 23 persen, Prancis 14 persen, dan Spanyol 13 persen. Angka ini dihitung dengan membandingkan hari-hari normal sebelum gelombang panas melanda.

Untung Besar di Balik Sengatan Matahari

Fenomena ini bukan kebetulan. Saat matahari bersinar paling terik, panel surya menghasilkan daya maksimal—bertepatan dengan jam-jam ketika penggunaan AC melonjak. Ember mencatat, panel surya atap di Inggris mampu menyalakan AC rumah selama lima jam penuh hanya dengan listrik dari matahari.

Di Inggris, rumah tangga yang memiliki panel surya dan baterai penyimpanan merasakan manfaat ganda. Mereka memakai listriknya sendiri untuk kebutuhan rumah, lalu menjual kelebihan daya ke jaringan nasional lewat program Smart Export Guarantee (SEG) dengan bayaran sekitar 12 pence (Rp 2.886) per kilowatt-jam (kWh).

Lembaga riset Uswitch menghitung, rata-rata satu rumah menghasilkan 15,2 kWh listrik per hari selama gelombang panas. Sekitar 10 kWh dipakai untuk kebutuhan sendiri, sehingga tagihan listrik hemat rata-rata 2,49 poundsterling (Rp 60.082) per hari. Sisa 5 kWh yang dijual ke jaringan menambah penghematan 55 pence (Rp 13.263) setiap harinya. Total dalam tujuh hari, penghematan mencapai sekitar Rp 506.728.

Sumber Energi Lain Justru Kolaps

Di saat panel surya bekerja maksimal, pembangkit listrik konvensional justru limbung. Produksi nuklir di Prancis, Rumania, Swiss, dan Hungaria terpaksa dikurangi karena permukaan sungai seperti Danube surut, membuat pasokan air pendingin mesin tidak mencukupi.

Lima pembangkit gas di Inggris juga memangkas daya hingga 2,5 gigawatt (GW) pada Juni akibat suhu terlalu panas. Pembangkit listrik tenaga air (PLTA) tak luput dari masalah—tujuh dari delapan produsen PLTA terbesar di Uni Eropa mencatat produksi di bawah rata-rata lima tahun terakhir.

Dampaknya terasa di kantong konsumen. Harga energi harian rata-rata melonjak 119 persen di Hungaria, 44 persen di Prancis, 13 persen di Italia, dan 7 persen di Spanyol. Kabel listrik udara yang panas juga mengurangi kapasitas saluran dan membuat trafo rawan overheat.

Baterai Jadi Kunci Ketahanan Energi

Chris Rosslowe, analis energi senior Ember, menegaskan bahwa lonjakan produksi surya membantu menstabilkan jaringan saat pembangkit lain kesulitan beroperasi. Namun tantangan terbesar justru datang setelah matahari terbenam.

"Panel surya sudah bekerja keras selama gelombang panas, tetapi tantangan sebenarnya dimulai setelah matahari terbenam. Di malam hari, saat kebutuhan pendingin ruangan masih tinggi, jaringan listrik paling rentan bergantung pada listrik berbahan bakar gas yang mahal," ujarnya.

Ember merekomendasikan penambahan kapasitas baterai untuk menyimpan energi surya murah yang bisa dipakai pada malam hari. Langkah ini dinilai mampu mengurangi ketergantungan pada pembangkit fosil sekaligus memperkuat ketahanan energi Uni Eropa menghadapi cuaca ekstrem yang kian sering terjadi.

Sumber: lestari.kompas.com

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua